Skip navigation

Dalam peta perjalanan sastra Riau, Mosthamir Thalib duduk di kursi tersendiri sebagai sastrawan, pekerja seni, sekaligus wartawan. Menurut saya, penerima Anugerah Adinegoro 1998 dari PWI Pusat ini memiliki karakter tersendiri dalam menghidangkan karya-karya imajinatifnya kepada pembaca. Beliau mempunyai talenta kejeniusan linguistik yang sangat lokal. Dengan ke-Melayu-annya dalam karya kreatif, suami Dewi Kamar ini mampu menyampaikan tumpukan gagasan dan diterima di berbagai kalangan. Baca Lebih Lanjut »

Suku Using menempati beberapa kecamatan di kabupaten Banyuwangi bagian tengah dan bagian utara, terutama di Kecamatan Banyuwangi, Kecamatan Rogojampi,kecamatan singonjuruh,temuguruh Kecamatan Glagah dan Kecamatan Singojuruh, Kecamatan Giri, Kecamatan Kalipuro, dan Kecamatan Songgon. Komunitas Using atau lebih dikenal sebagai wong Using oleh beberapa kalangan dan hasil penelitian1 dianggap sebagai penduduk asli2 Banyuwangi, sebuah wilayah di ujung paling timur pulau Jawa yang juga dikenal sebagai Blambangan. Komunitas ini menyebar di desa-desa pertanian subur di bagian tengah dan timur Banyuwangi yang secara administratif merupakan kecamatan-kematan Giri, Kabat, Glagah, Rogojampi, Singojuruh, Songgon, Cluring, Banyuwangi Kota, Genteng, dan Srono. Di tiga kecamatan terakhir, mereka telah bercampur dengan penduduk non-Using, migran berasal dari bagian barat Jawa Timur dan Jawa Tengah, termasuk Yogyakarta (wong Using menyebutnya wong Jawa-Kulon).

Sejarah Suku Using diawali pada akhir masa kekuasaan Majapahit sekitar tahun 1478 M. Perang saudara dan Pertumbuhan kerajaan-kerajaan islam terutama Kesultanan Malaka mempercepat jatuhnya Majapahit. Setelah kejatuhannya, orang-orang majapahit mengungsi ke beberapa tempat, yaitu lereng Gunung Bromo (Suku Tengger), Blambangan (Suku Using) dan Bali. Kedekatan sejarah ini terlihat dari corak kehidupan Suku Using yang masih menyiratkan budaya Majapahit. Kerajaan Blambangan, yang didirikan oleh masyarakat osing, adalah kerajaan terakhir yang bercorak Hindu-Budha seperti halnya kerajaan Majapahit. Bahkan Mereka sangat percaya bahwa Taman Nasional Alas Purwo merupakan tempat pemberhentian terakhir rakyat Majapahit yang menghindar dari serbuan kerajaan Mataram.

Dalam sejarahnya Kerajaan Mataram Islam tidak pernah menancapkan kekuasaanya atas Kerajaan Blambangan, hal inilah yang menyebabkan kebudayaan masyarakat Using mempunyai perbedaan yang cukup signifikan dibandingkan dengan Suku Jawa. Suku Using mempunyai kedekatan yang cukup besar dengan masyarakat Bali, hal ini sangat terluhat dari kesenian tradisional Gandrung yang mempunyai kemiripan dengan tari-tari tradisional bali lainnya, termasuk juga busana tari dan instrumen musiknya. Kemiripan lain tercermin dari arsitektur bangunan antar Suku Using dan Suku Bali yang mempunyai banyak persamaan, terutama pada hiasan di bagian atap bangunan.Puputan adalah perang terakhir hingga darah penghabisan sebagai usaha terakhir mempertahankan diri terhadap serangan musuh yang lebih besar dan kuat. Tradisi ini pernah menyulut peperangan besar yang disebut Puputan Bayu pada tahun 1771 M. SEJARAH PERANG BAYU ini jarang di ekspos oleh media sehingga sejarah ini seperti tenggelam.

Dalam perkembangan berikutnya, setelah para petinggi Majapahit berhasil hijrah ke Bali dan membangun kerajaan di sana, Blambangan, secara politik dan kultural, menjadi bagian dari Bali atau, seperti yang diistilahkan oleh beberapa sejarawan, “di bawah perlindungan Bali”. Tetapi, pada tahun 1639, kerajaan Mataram di Jawa Tengah menaklukkan Blambangan yang meskipun mendapat bantuan yang tidak sedikit dari Bali menelan banyak korban jiwa; rakyat Blambangan tidak sedikit yang terbunuh dan dibuang (G.D.E. Haal, seperti yang dikutip Anderson, 1982; 75). Di dalam kekuasaan Mataram inilah penduduk Blambangan mulai diislamisasi, suatu perkembangan kultural yang banyak pengaruhnya di kemudian hari dalam membentuk struktur sosial dan kebudayaan. Perebutan Blambangan oleh Mataram dan Bali terus berlangsung dan saling bergantian menguasai hingga berakhir ketika VOC berhasil menduduki Blambangan pada tahun 1765.

Blambangan tampak relatif kurang memperlihatkan kekuatannya, di masa penjajahan Belanda, ia justru menampilkan kegigihannya melawan dominasi VOC. Perang demi perang terjadi antara rakyat Blambangan melawan kolonial Belanda. Hingga akhirnya memuncak pada perang besar pada tahun 1771-1772 di bawah pimpinan Mas Rempeg atau Pangeran Jagapati yang dikenal dengan perang Puputan Bayu. Perang ini telah berhasil memporak-porandakan rakyat Blambangan dan hanya menyisakan sekitar 8.000 orang (Ali, 1993:20). Meski demikian, tampaknya rakyat Blambangan tetap pantang menyerah. Perang-perang perlawanan, meski lebih kecil, terus terjadi sampai berpuluh tahun kemudian (1810) yang dipimpin oleh pasukan Bayu yang tersisa, yaitu orang-orang yang oleh Belanda dijuluki sebagai ‘orang-orang Bayu yang liar’ (Lekkerker, 1926:401-402; Ali, 1997:9). Setelah dapat menghancurkan benteng Bayu, Belanda memusatkan pemerintahannya di Banyuwangi dan mengangkat Mas Alit sebagai bupati pertama Banyuwangi.

Blambangan memang tidak pernah lepas dari pendudukan dan penjajahan pihak luar, dan pada tahun 1765 tidak kurang dari 60.000 pejuang Blambangan terbunuh atau hilang untuk mempertahankan wilayahnya (Epp, 1849:247). Anderson (1982:75-76) melukiskan bahwa betapa kekejaman Belanda tak bertara sewaktu menguasai Blambangan terutama dalam tahun 1767-1781. Dengan merujuk catatan Bosch yang ditulis dari Bondowoso, Anderson mengatakan: “daerah inilah barangkali satu-satunya di seluruh Jawa yang suatu ketika pernah berpenduduk padat yang telah dibinasakan sama sekali…”.

Pendudukan dan penaklukan yang bertubi-tubi itu ternyata justru membuat rakyat Blambangan semakin patriotik dan mempunyai semangat resistensi yang sangat kuat. Cortesao, seperti yang dikutip oleh Herusantosa (1987:13), dengan merujuk pada Tome Pires, menyebut “rakyat Blambangan sebagai rakyat yang mempunyai sifat “warlike”, suka berperang dan selalu siap tempur, selalu ingin dan berusaha membebaskan wilayahnya dari kekuasaan pihak lain”. Scholte (1927:146) menyatakan:

“Sejarah Blambangan sangat menyedihkan. Suku bangsa Blambangan terus berkurang karena terbunuh oleh kekuatan-kekuatan yang berturut-turut melanda daerah tersebut, seperti kekuatan Mataram, Bali, Bugis dan Makassar, para perampok Cina, dan akhirnya VOC. Tetapi semangat rakyat Blambangan tidak pernah sama sekali padam, dan keturunannya yang ada sekarang merupakan suku bangsa yang gagah fisiknya dan kepribadian serta berkembang dengan pesat, berpegang teguh pada adat-istiadat, tetapi juga mudah menerima peradaban baru”. Rakyat Blambangan, seperti yang disebut-sebut dalam berbagai sumber di atas, itulah yang selama ini dinyatakan sebagai cikal-bakal wong Using.

Suku Using mempunyai Bahasa Using yang merupakan turunan langsung dari Bahasa Jawa Kuno seperti halnya Bahasa Bali. Bahasa Using sangat berbeda dengan Bahasa Jawa sehingga bahasa Using bukan merupakan dialek dari bahasa Jawa seperti anggapan beberapa kalangan[rujukan?]. kamus boso using

wikipedia


Abad 15 dan 16 adalah periode paling berdarah di zona dataran rendah Aceh, Sumatra Timur, dan semenanjung Malaysia. Empat kerajaan saling bantai, berkonspirasi, dan saling menaklukkan untuk memperebutkan kekuasaan pada zona perdagangan internasional yang kini dikenal dengan Selat Malaka. Di tengah kecamuk perebutan kue ekonomi itu, pada tepian sungai Deli–tepatnya sekitar 9 km dari Labuhan Deli–lahirlah sebuah legenda klasik bernama Puteri Hijau.

Legenda Sang Puteri yang selalu digambarkan dengan segala kosa kata kecantikan, bertahan hingga kini dalam dua versi. Versi pertama berasal dari catatan sejarah yang mirip cerita lisan yang berkembang di masyarakat Melayu Deli. Versi kedua adalah hikayat dari masyarakat Karo. Keduanya bertentangan dan kelihatan sekali saling berlomba menonjolkan identitas dan ego suku masing-masing.

Dari versi lisan Melayu, konon pernah lahir seorang puteri yang sangat cantik jelita di desa Siberaya, dekat hulu sungai Petani (sungai Deli). Kecantikannya memancarkan warna kehijauan yang berkilau dan menjadi kesohor ke berbagai pelosok negeri, mulai dari Aceh, Malaka, hingga bagian utara pulau Jawa. Ia kemudian dinamai Puteri Hijau. Dalam hikayatnya, Sang Puteri memiliki dua saudara kembar yang dipercaya adalah seekor naga bernama Ular Simangombus dan sebuah meriam bernama Meriam Puntung.

Alkisah, Ular Simangombus memiliki selera makan yang luar biasa. Ia digambarkan seakan tidak pernah kenyang. Rakyat Siberaya akhirnya tidak sanggup lagi menyediakan makanan untuk naga ini, sehingga Sang Puteri bersama kedua saudaranya memutuskan pindah ke hilir sungai dan menetap di sebuah perkampungan baru yang sekarang dikenal dengan nama Deli Tua. Di sini, para pengikutnya membangun benteng yang kuat. Dengan demikian, negeri itu cepat makmur.

Kecantikan Sang Puteri yang menyebar seperti kabar burung ke segala penjuru, suatu ketika mendarat di telinga Raja Aceh. Ia lantas kepincut dan mengirim bala tentara untuk meminang Puteri Hijau. Utusan langsung dikirim. Pantun bersahut-sahutan. Tapi pinangan ini ditolak dan membuat Raja Aceh betul-betul dilanda murka. Ia merasa diri dan kerajaannya dihina sehingga jatuhlah perintah untuk segera menyerang benteng Puteri Hijau. Tapi karena bentengnya sangat kokoh, pasukan Aceh gagal menembusnya.

Menyadari jumlah pasukannya makin menyusut setelah banyak yang terbunuh, panglima-panglima perang Aceh memakai siasat baru. Mereka menyuruh prajuritnya menembakkan ribuan uang emas ke arah prajurit benteng yang bertahan di balik pintu gerbang. Suasana menjadi tidak terkendali karena para penjaga benteng itu berebutan uang emas dan meninggalkan posnya. Ketika mereka tengah sibuk memunguti uang logam, tentara Aceh menerobos masuk dan dengan mudah menguasai benteng.

Pertahanan terakhir yang dimiliki orang dalam adalah salah seorang saudara Puteri Hijau, yaitu Meriam Puntung. Tapi karena ditembakkan terus-menerus, meriam ini menjadi panas, meledak, terlontar, dan terputus dua. Bagian moncongnya tercampak ke kampung Sukanalu. Sedangkan bagian sisanya terlontar ke Labuhan Deli, dan kini ada di halaman Istana Maimoon Medan.

Melihat situasi yang tak menguntungkan, Ular Simangombus, saudara Sang Puteri lainnya, menaikkan Puteri Hijau ke atas punggungnya dan menyelamatkan diri melalui sebuah terusan (Jalan Puteri Hijau), memasuki sungai Deli, dan langsung ke Selat Malaka. Dan hingga sekarang kedua kakak beradik ini dipercaya menghuni sebuah negeri dasar laut di sekitar Pulau Berhala.

Namun sebuah anak legenda menyebutkan bahwa Puteri Hijau sebenarnya sempat tertangkap. Ia ditawan dan dimasukkan dalam sebuah peti kaca yang dimuat ke dalam kapal untuk seterusnya dibawa ke Aceh. Ketika kapal sampai di Ujung Jambo Aye, Putri Hijau memohon diadakan satu upacara untuknya sebelum peti diturunkan dari kapal. Atas permintaannya, ia diberikan berkarung-karung beras dan beribu-ribu telur.

Tetapi baru saja upacara dimulai, tiba-tiba berhembuslah angin ribut yang maha dahsyat, disusul gelombang yang tinggi dan ganas. Dari perut laut muncul jelmaan saudaranya, Ular Simangombus, yang dengan rahangnya mengambil peti tempat adiknya dikurung. Lalu Puteri Hijau dilarikan ke dalam laut dan mereka bersemayam di perairan pulau Berhala. Menurut cerita ini, saudara-saudara Puteri Hijau adalah manusia-manusia sakti yang masing-masing bisa menjelma menjadi meriam dan naga. Memang, cerita lisan selalu mewariskan banyak versi sesuai selera masing-masing penceritanya.

***

Dalam bukunya, Sejarah Medan Tempo Doeloe, sejarahwan Tengku Luckman Sinar mencoba menempatkan legenda Puteri Hijau sebagai salah satu setting sejarah perlawanan Kerajaan Haru yang berpusat di Deli Tua terhadap serangan Kerajaan Aceh, sekaligus juga menjadi latar proses terbentuknya etnis Melayu di Sumatra Timur.

Nama Kerajaan Haru sudah dikenal sejak akhir abad 13. Bukti tertulis pertama yang mengabadikan kerajaan ini adalah catatan Tiongkok pada tahun 1282 M, tepatnya pada zaman pemerintahan Kubilai Khan. Catatan itu mengisahkan, Kerajaan Haru mengirimkan utusannya untuk misi dagang ke Tiongkok.

Sedang berdasarkan hikayat Melayu dan hikayat Raja-raja Pasai, Kerajaan Haru sudah menganut Islam sejak pertengahan abad 13. Disebutkan, nakhoda Ismail dan Fakir Muhammad mula-mula mengislamkan negeri Fansuri (Barus), Lamiri (Lamuri), lalu Haru. Kerajaan Samudera Pasai dan Malaka sendiri diislamkan kemudian. Jadi, dari hikayat ini, Kerajaan Haru lebih dulu memeluk Islam ketimbang Aceh dan Malaka, meskipun kemudian Malakalah yang menjadi pusat pengembangan Islam di kawasan Nusantara.

Pada masa tersebut, Kerajaan Haru sudah menjadi salah satu pemegang peranan penting dalam wilayah perdagangan dunia di Selat Malaka. Pedagang-pedagang Persia, Portugis, Cina dan Eropa punya catatan masing-masing tentang wilayah ini, di mana Haru adalah salah satu kerajaan yang memungut pajak di samping Samudera Pasai dan Malaka yang kemudian dijajah Portugis.

Sebelum akhirnya diserang Kerajaan Sriwijaya yang ingin mempersatukan Nusantara pada tahun 1275 M, Kerajaan Haru memiliki satu bandar perdagangan besar di Kota Cina, yang letaknya antara sungai Deli dan sungai Buluh Cina. Saat itu, Haru sudah memiliki hubungan bisnis yang erat dengan Dinasti Sung Selatan. Kapal-kapal Tiongkok langsung mendatangi bandar ini untuk melakukan perdagangan. Tak heran bila para peneliti masih menemukan sejumlah koin mata uang Cina kuno di kawasan ini.

Setelah bandar perdagangan Haru dihancurkan Sriwijaya dalam “Ekspedisi Pamalayu”, masa pemulihannya tak begitu lama. Karena potensialnya kawasan ini, bandar kembali ramai dan perdagangan dengan Tiongkok terus berlangsung. Kerajaan Haru malah kian berkembang pasca penaklukan Sriwijaya. Pedagang Persia, Fadiullah bin Abdul Khadir Rasyiuddin dalam bukunya “Jamiul Tawarikh” menjelaskan, negeri-negeri utama di Sumatera pada tahun 1310 M adalah Lamuri, Samudera Pasai, Barlak (Perlak), Dalmyan (Temiang) dan Haru.

Tapi musibah kedua menimpa Haru ketika tentara Kerajaan Majapahit pada tahun 1350 M juga tiba dan menaklukkan daerah ini. Dalam kronik Negara Kertagama karangan Mpu Prapanca disebut bahwa di samping Panay (Kerajaan Pane di Portibi), juga ditaklukkan Kampe (Kompai) dan Harw (Haru). Di hulu sungai Ular, masih ada kampung bernama “Kota Jawa” dan “Timbun Tulang” yang menurut legenda di teluk Haru menunjukkan adanya lokasi penimbunan tulang tentara Majapahit yang mati diracuni gadis-gadis setempat.

Setelah lepas dari cengkeraman Majapahit, Haru kembali berhubungan dengan Tiongkok. Pada tahun 1412 M, Laksamana Cheng Ho yang diutus Kaisar Tiongkok mengunjungi pulau-pulau di nusantara, singgah di Haru. Kunjungan itu mencatat bahwa penguasa Haru kala itu bernama Tuanku Alamsyah, putra dari Sultan Husin (raja sebelumnya). Cheng Ho, laksamana legendaris dari Tiongkok, mengangkut persembahan Haru untuk Tiongkok. Tercatat dua kali Cheng Ho singgah di Haru. Setelah itu ia tak pernah muncul lagi karena Tiongkok juga bergolak oleh perang dinasti yang tiada henti.

Sepanjang masa kejayaannya, Kerajaan Haru, Samudera Pasai dan Malaka (Portugis) adalah tiga serangkai yang kadang berdamai dan kadang saling bertikai memperebutkan peranan di perairan Selat Malaka. Menurut sejarah Melayu, pada tahun 1477 M sampai 1488, Haru menaklukkan Kerajaan Pasai gara-gara sebuah penghinaan yang dilakukan Raja Pasai terhadap utusan Raja Haru. Tapi Kerajaan Pasai kemudian dibantu Malaka, sehingga kerajaan ini juga otomatis menjadi musuh Haru. Tapi ketika Raja Malaka diusir Portugis ke Johor, Raja Haru juga bersahabat dengannya sehingga membuat iri Kerajaan Aceh.

Pada pertengahan abad 15 itu, Haru disebut-sebut juga punya niat menghancurkan Pasai di utara dan Malaka di selatan untuk mengambil alih posisi Sriwijaya zaman dulu. Tapi niat itu tidak pernah terwujud. Malah Kerajaan Haru terjebak posisi sulit dan tidak aman karena dikelilingi musuh. Untuk membuat pertahanan yang kuat, mereka meninggalkan Kota Cina dan ibu kota Haru naik lagi ke atas sungai Deli.

Pada tahun 1511 M, Portugis menguasai Malaka dan memperoleh keuntungan besar dari lalu lintas perdagangan di Selat Malaka. Tapi kemudian Kerajaan Pasai membangun sebuah bandar perdagangan tandingan di Sabang dengan pajak lebih rendah dan pelayanan yang lebih bagus. Portugis yang marah-marah, dimanfaatkan Kerajaan Haru untuk bersama-sama menyerang Pasai pada tahun 1514 M. Tapi di Pasai, Portugis diusir oleh imperium Aceh yang baru lahir. Haru sendiri makin rawan, dan terpaksa memindahkan kerajaannya makin ke pedalaman.

Haru adalah kerajaan besar. Kekuasaannya membentang dari Sungai Rokan hingga Temiang (Aceh Tamiang). Tapi mengapa sejarahnya seperti tidak meninggalkan bekas? Satu teori mengatakan, kerajaan yang dibangun oleh etnis bermarga Karo Sekali (Karo asli) ini tidak memiliki satu proyek kebudayaan selama masa kekuasaannya. Meskipun memeluk Islam, tapi mereka bukanlah pusat pengembangan Islam. Ini berbeda dengan Malaka, Pasai, Sriwijaya, atau Majapahit, yang masing-masing memang mengembangkan satu pusat pengetahuan dan intelektualisme yang ditandai adanya tradisi penulisan sejarah.

Sebaliknya, Kerajaan Haru tidak memiliki catatan yang berarti, sehingga keberadaannya sempat tenggelam dalam teka-teki yang sulit. Sejumlah catatan menyebutkan Haru sebagai kerajaan bar-bar yang suka bertempur dan membajak kapal-kapal asing di Selat Malaka. Penulis Portugis, Tome Pires, menggambarkan Haru sebagai kerajaan terbesar di Sumatera.

Rakyatnya banyak, tetapi tidak kaya karena perdagangan. Mereka memiliki kapal-kapal kencang dan sangat terkenal karena daya penghancurnya. Sejak Malaka lahir, Kerajaan Haru selalu menjadi musuh bebuyutan orang Malaka dan sangat ditakuti. Mereka merampas rakyat malaka. Tiba-tiba saja orang-orang Haru menyergap sebuah kampung dan mengambil segala yang berharga.

Rakyat Haru disebut suka berperang. Haru banyak menghasilkan padi, daging, ikan, buah-buahan, arak, kapur barus berkualitas tinggi, emas, benzoin, aphotecary’s ignaloes, rotan, lilin, madu, budak-budak, dan sedikit saja yang pedagang. Mereka memperoleh barang dagangan melalui Pasai, Pedir, Fansuri dan Minangkabau. Bahkan Haru memiliki sebuah kota pasar budak yang disebut Arqat (Rantauperapat sekarang).

Setelah imperium Aceh bangkit di akhir kejayaan Pasai, keberadaan Haru makin terancam. Negeri Aceh yang dulu berulangkali diserangnya ternyata mampu menyatukan diri di bawah Sultan Aceh bernama Al Qahhar. Selama abad 16, giliran Sultan Aceh yang berkali-kali menyerang Haru, sampai akhirnya Haru takluk dan diperintah oleh perwakilan dan kepercayaan Sultan Aceh bernama Gocah Pahlawan yang dipercaya sebagai keturunan Raja India yang merantau ke Nusantara. Gocah Pahlawan adalah penakluk Haru dan pendiri cikal-bakal Kerajaan Deli.
Lalu siapa sebenarnya etnis Melayu? Pada saat kapan legenda Puteri Hijau muncul? Cerita ini menjadi kian menarik.

***

Legenda Puteri Hijau, bila dikaitkan dengan sejarah Kerajaan Haru, terbit ketika kerajaan itu sedang sengit-sengitnya mempertahankan diri dari serangan Imperium Aceh yang baru terbentuk di bawah Al Qahhar. Mundur ke belakang sedikit, menurut sejarah Melayu, nama Sultan Haru pada tahun 1477-1488 M adalah Maharadja Diraja, putera Sultan Sujak yang turun dari “Batu Hilir dikata Hulu, Batu Hulu dikata Hilir”.

Mungkin pada kalimat itu, yang dimaksudkan adalah “Batak Hilir dikata Hulu, Batak Hulu dikata Hilir”. Kata “Batak” sengaja dihilangkan karena maknanya bisa mengandung penghinaan, mengingat nama “Batak” pada saat itu menunjuk pada pengertian “terbelakang”, orang-orang pedalaman di gunung yang belum memeluk Islam.
Jadi, orang Haru awalnya berasal dari pegunungan, turunan Batak, yang kemudian masuk Islam menjadi Melayu.

Dengan kata lain, sebagaimana yang disimpulkan Tengku Luckman Sinar, etnis Melayu sebenarnya bukan sebuah ikatan genealogis (ras), tetapi ikatan kultur dan agama. Pada masa itu, yang disebut Melayu adalah semua orang yang masuk Islam. “Jadi, Melayu sekarang adalah percampuran dari banyak suku, seperti Batak, India, Aceh, dan masyarakat Johor di Riau. Ikatannya pada kultur dan agama,” jelas Luckman.

Orang-orang Haru yang turun pertama sekali ke dataran rendah dan memeluk Islam menamakan dirinya Karo Sekali (Karo asli) yang kemudian menjadi marga tersendiri. Marga itu masih ditemui di Desa Siberaya, dekat Delitua. Kata “Haru” sendiri kemungkinan besar adalah sebutan untuk orang Karo asli ini.

Mereka tidak mau disamakan dengan marga-marga Karo sekarang yang menurut mereka adalah golongan Karo-Karo (bukan asli). Orang Karo-Karo seperti Tarigan, Sembiring, Perangin-angin, Sitepu, dan Ginting, baru turun ke Deli pada awal abad 17 dan membentuk “urung-urung” (daerah kekuasaan berdasarkan marga dan ikatan keluarga). Penduduk asli Asahan juga mengaku berasal dari marga Haro-Haro (Karo-Karo). Sementara di Temiang, Rokan, dan Panai, masih ditemukan suku Haru.

Sebagian dari Karo-Karo ini masuk Islam (jadi Melayu) dan bersama-sama orang Aceh menyebarkan agamanya sampai ke lereng pegunungan. Mereka juga menikah dengan orang-orang pesisir dan Aceh. Bahkan, marga Sembiring konon adalah orang yang diusir dari Aceh.

Nah, dari sini kita sudah bisa menggambarkan siapa sebenarnya orang Haru dan Kerajaan Haru, tempat munculnya Legenda Puteri Hijau. Seorang utusan Portugis, Ferdinand Mendes Pinto, menceritakan selintas tentang masa penyerangan Sultan Aceh Al Qahhar ke Haru di tahun 1539 M. Penyerangan Aceh itu dilakukan 2 kali, yaitu pada Januari dan November tahun yang sama.

Pinto menuliskan, setelah ia berlayar 5 hari dari Malaka, ia sampai pada sungai Panetican (Deli), di mana ibukota Haru berdiri. Raja Haru saat itu sedang sibuk mempersiapkan kubu-kubu dan benteng-benteng di kiri-kanan sungai. Letak istana kira-kira satu kilometer ke dalam. Diduga kuat, lokasi yang dimaksud adalah Delitua. Apalagi, sisa benteng itu masih dapat dilihat sekarang, dan beberapa penduduk pernah menemukan mata uang dan peluru emas milik tentara Aceh.

“Haru hanya mempunyai sebuah meriam besar yang dibelinya dari seorang pelarian Portugis di Pasai. Mendengar akan sampainya armada Aceh, maka Sultan Haru menyuruh pasukannya mengungsikan wanita-wanita dan anak-anak, termasuk permaisurinya Anche Sinny (Anggi Sini atau Encik Sini) ke hutan sejauh 39 km dari ibukota. Kerajaan Aceh banyak sekali menggunakan serdadu-serdadu bayaran dari Gujarat, Malabar, Hadramaut, Lanun, dan sebagainya,” tulis Pinto.

Setelah dikepung 17 hari, orang Aceh berhasil menghancurkan dinding-dinding kubu pertahanan Haru. Tapi karena banyak korban di pihaknya, maka Aceh memakai siasat menyogok panglima-panglima Haru dengan uang emas agar mereka mau meninggalkan penjagaan di benteng utama. Dalam sebuah pertempuran sengit, Sultan Haru tewas dan Haru takluk.

Permaisuri Haru, Anggi Sini, membentuk pasukan gerilya, tapi tidak berhasil merebut benteng itu kembali. Akhirnya ia bersama pengikutnya naik perahu dari sebuah sungai dan berlayar menuju Malaka. Perlu diketahui, perahu pada masa itu umumnya berlambangkan kepala naga. Di sana ia disambut baik Gubernur Portugis, tapi tidak bersedia memberi bala bantuan untuk merebut Kerajaan Haru. Diam-diam permaisuri bertolak ke Bintan dan menjumpai Raja Melayu Riau-Johor, Sultan Alauddin Riayatsyah II, putera almarhum Raja Malaka Sultan Mahmudsyah.

Permaisuri Haru disambut baik dan Johor bersedia membantunya merebut benteng Haru dengan satu syarat, Permaisuri Haru bersedia menikah dengannya. Syarat tersebut bisa jadi membuktikan bagaimana menarik dan cantiknya Anggi atau Encik Sini, seorang gadis Karo dari Desa Siberaya. Akhirnya Haru dapat direbut kembali dari Aceh.

Cerita Pinto ini banyak persamaannya dengan Legenda Puteri Hijau, baik dari segi tahunnya maupun simbol-simbol legendanya. Penaklukan benteng Haru pada tahun 1539 M sama dengan penaklukan Puteri Hijau di Deli Tua yang tertuang dalam Hikayat Puteri Hijau. Kemungkinan besar Anggi atau Encik Sini adalah Puteri Hijau itu sendiri. Meriam besar satu-satunya yang dimiliki Kerajaan Haru barangkali merujuk “saudara” Puteri Hijau yang karena digunakan berkali-kali akhirnya pecah menjadi dua bagian. Sedang “saudara” naga yang dinaiki Puteri Hijau menuju Selat Malaka punya kesamaan dengan perahu berkepala naga yang dipakai Anggi atau Encik Sini.

Setelah itu, Haru masih berulang-ulang diserang Aceh hingga kemudian takluk oleh Sultan Aceh pada abad 16. Kekuasaan Aceh di Haru menandai dimulainya babak baru Kerajaan Ghuri yang kemudian berubah nama menjadi Kerajaan Deli yang kita kenal sekarang. Ketika Belanda muncul, riwayat Haru makin menghilang. Akibatnya, sampai sekarang, orang selalu sukar melihat suku Karo dan Melayu Deli dalam satu kesatuan. Padahal, bangunan Kerajaan Deli seperti Istana Maimoon saja masih jelas diwarnai oleh ornamen khas suku Karo. Lihatlah misalnya bangunan tempat Meriam Puntung di pekarangan Istana Maimoon.

***

Tapi itu adalah legenda versi Melayu. Bagi orang Karo, versi kepahlawanan Sang Puteri justru dianggap mengada-ada. Pak Sitepu yang saat ini menjaga perigi yang dipercaya sebagai tempat pemandian Puteri Hijau menyebut wanita rupawan itu sebagai aib bagi warga Karo, khususnya Desa Siberaya.

Puteri Hijau yang kemudian dinobatkan sebagai boru Sembiring lahir tanpa ayah. Sebagian orang menyebut ibunya kawin dengan makhluk gaib, sebagian lagi menuduhnya berzinah. Karena menanggung aib, Puteri Hijau yang dipercaya lahir bersama sebuah meriam dan seekor naga, akhirnya memilih pergi dari Siberaya dan menetap di sebuah pemukiman baru di daerah Delitua.
Sampai kini, tempat pemandian Sang Puteri masih dijaga dan dikeramatkan. Orang-orang Tionghoa, beberapa keluarga Kerajaan Deli, dan masyarakat yang meminta sesuatu, masih acap datang berziarah ke perigi yang memiliki sumber mata air jernih dan tiada pernah habis ini.

Menurut orang Karo, sesungguhnya mereka adalah penduduk pertama di pesisir timur, sedang orang Melayu dan Aceh adalah kaum pendatang. “Kalau kami pendatang, kenapa warga Karo yang justru lebih banyak bermukim di Padangbulan, Delitua, Langkat, dan daerah pesisir lainnya?” ujar Pak Sitepu.

Ia juga menyebutkan bahwa nama-nama di daerah pesisir seperti Belawan dan Medan adalah nama-nama Karo. Belawan dulunya berasal dari “perbelawanan” yang artinya tempat bersumpah. Di sini orang-orang melakukan sumpah untuk tidak berbuat sesuatu yang jahat atau melanggar adat. Dulunya, masih kata Sitepu, banyak orang Karo yang diusir ke daerah pesisir karena melanggar adat di kampungnya, semisal kawin semarga.

Orang-orang tersebut kemudian berkembang di daerah pesisir, bergaul dengan para pendatang dari Malaka. Mereka menghilangkan marganya karena malu, dan baru belakangan memakainya kembali. Sehingga tidak heran bila di pesisir Langkat, Labuhan Batu dan Tanjungbalai, muncul marga-marga Batak yang sebelumnya tidak disebut-sebut.

Di tengah warga Karo sendiri, cerita tentang Puteri Hijau masih terbagi dalam banyak anak versi. Tapi secara umum, mereka melihat Sang Puteri dari kaca mata negatif dan merasa bahwa menceritakan legenda Puteri Hijau sama dengan membuka aib sendiri.

Dari sudut pandang ilmu sejarah, cerita lisan versi Karo memang lebih sulit diterima akal karena tidak memiliki logika runtut sebagaimana yang dilansir Tengku Luckman Sinar. Namun terlepas dari kontroversi masa lalu yang sudah sarat dengan kepentingan identitas, warga Karo dan Melayu masih sama-sama menghidupkan Legenda Puteri Hijau di hati masing-masing.

Perigi Puteri Hijau saat ini dijaga oleh penduduk Kampung Delitua yang seluruhnya adalah orang Karo. Perkampungan tua ini terletak sekitar 1,5 km dari Pajak Delitua. Untuk mencapainya, kita harus melewati sebuah titi gantung yang menghubungkan kedua bibir sungai Deli. Selain perigi Puteri Hijau, kampung ini juga dikelilingi benteng berupa lubang besar yang di sisinya ditanami rumpun-rumpun bambu. Konon,desa ini tak pernah takluk pada Belanda ketika Kerajaan Melayu Deli sudah menjalin kerjasama dengan Belanda. Hal itu ditandai dengan tiadanya tanaman bakau di kawasan Kampung Delitua. Padahal pengusaha Belanda, Nienhuys, hampir menguasai seluruh areal penanaman tembakau waktu itu.

Tapi bagaimanapun masa lalu Puteri Hijau yang sebenarnya, ada atau tidak pernah ada, sekeras apa kontroversinya, itu semua justru memperkaya hikmah yang dikandungnya. Dan yang terpenting, legendanya adalah sebuah aset wisata.

teks oleh tikwan raya
foto oleh putra perwira

insidesumatera.com


Embun yang turun semalam masih menyisakan jejak di pucuk-pucuk ilalang liar. Hari ini adalah tahun ke-1634 dalam penanggalan Saka, atau 1011dalam hitungan Masehi. Puluhan perahu layar ukuran besar dan kecil tampak sedang membongkar muat barang. Suasana di tepi sungai Batang Hari terasa begitu ramai. Riuh rendah celoteh para penumpang berbaur dengan semburan aroma cendana, buah-buahan, dan ternak.

Di tepian sungai, serombongan bikkhu muda berjubah kuning merah terlihat bergegas ke suatu tempat. Rupa mereka tidak sama. Ada bikkhu berkulit kuning dan bermata sipit. Yang lain berkulit coklat. Dan sebagian lagi bersosok tinggi besar berwajah khas India. Dari balik rimbunanan daun tembesu, puluhan puncak stupa menyembul keemasan.

Selanjutnya tampak pemandangan yang menggetarkan. Ratusan bangunan biara berdiri kokoh di area seluas 120 ha lebih dengan ribuan bikkhu yang hilir mudik di dalamnya. Suasananya sungguh mirip sebuah kota kecil para bikkhu. Mungkin pemandangan macam inilah yang direkam oleh Atissa, bikkhu terkenal dari Tibet saat mendalami studi agama Buddha di Kerajaan Sriwijaya di abad 10.

Menurut catatan sejarah, Atissa sempat tinggal di biara Buddha Sriwijaya selama 22 tahun (1011 – 1023 M). Sejak abad ke VI, Sriwijaya memang tersohor sebagai pusat pendidikan agama Buddha terbesar di Asia Tenggara. Pamor ini tercipta berkat kejeniusan bikkhu Darmakirti yang menjadi pemimpin biara Buddha di Sriwijaya.

Darmakirti bukan hanya guru terbesar di Sriwijaya. Dari dokumen sejarah yang ada, ia bahkan disebut sebagai tokoh terbesar bagi penganut Buddha Mahayana di seantero dunia pada abad ke X. Selain Darmakirti, Sriwijaya juga melahirkan dua tokoh besar agama Buddha lainnya. Mereka adalah yang mulia bikkhu Dharmapala dan bikkhu Vajabudhi.

Begitu pentingnya posisi Sriwijaya di mata pemeluk Buddha, sampai-sampai muncul tren baru dalam belajar agama. Bagi yang tertarik belajar tentang Buddha, sebelum pergi ke Universitas Nalanda di India, mereka dianjurkan belajar dulu di Sriwijaya.
—————————
Informasi penting ini bisa kita temukan dari catatan harian I’Tsing, seorang pendeta mashur dari Cina yang berkunjung ke Sriwijaya.
—————————–
I’Tsing sendiri akhirnya sampai dua kali datang ke Sriwijaya untuk belajar. Ia datang ke kerajaan ini pertama kali tahun 671 M, dan kembali lagi tahun 689 M. Dalam kunjungannya yang kedua ini, I’Tsing tinggal selama 4 tahun di biara. Misinya adalah menerjemahkan kitab suci Buddha dari bahasa Sansekerta ke bahasa Cina.

Hari ini, sisa-sisa kebesaran perguruan agama Buddha di Sriwijaya masih dapat kita nikmati. Situs candi Muaro Jambi adalah bagian dari sejarah besar yang terpendam itu. Dengan luas area yang diketahui saat ini saja, candi Muaro tergolong situs candi terluas di dunia.
——————————————-
Kemungkinan besar candi Muaro berdiri lebih dulu ketimbang Borobudur. Kesaksian pendeta I’Tsing mendukung asumsi ini. Saat pertama datang sekitar abad ke VI M, ia sudah menyaksikan ribuan bikkhu—khususnya dari India—sudah bermukim di asrama pendidikan agama Budha. Ini berarti butuh sebuah lokasi yang luas untuk menampung mereka. Informasi tentang Borobudur sendiri baru muncul dari prasasti yang berangka tahun 800-an.

Sebenarnya baik candi Muaro maupun Borobudur dibangun oleh dinasti yang sama, yakni wangsa Syailendra. Sekitar abad VII – IX, wangsa Syailendra memperluas kekuasaannya sampai ke Jawa tengah.

Agak mengherankan juga kalau Borobudur yang spektakuler itu kalah pamor dari candi Muaro. Tapi fakta ini mungkin bisa dijelaskan dengan perbedaan fungsi kedua situs ini. Peran candi Muaro lebih dari sekedar tempat ibadah umat Buddha. Pada saat yang sama candi ini juga merupakan asrama belajar agama Buddha bertaraf internasional. Beda dengan Borobudur yang mungkin hanya berfungsi sebagai tempat pemujaan biasa dengan pencapaian arsitektur yang mumpuni.
—————————————–

Terletak 25 km sebelah timur laut Kodya Jambi, lokasi candi bisa dikunjungi dengan jalur darat maupun sungai. Butuh waktu 2 jam untuk sampai ke situs candi Muaro bila pergi dengan mobil. Namun jika Anda ingin merasakan sensasi perjalanan napak tilas para bikkhu kuno ke biara itu, cobalah naik speedboat dari anak sungai Batang Hari. Dalam tempo 20 menit Anda sudah sampai di desa Muaro. Sungai dalam era Sriwijaya memang menjadi infrastruktur utama untuk kepentingan dagang atau sosial.

Secara fisik, candi Muaro memang tidak seatraktif candi Borobudur. Ini berkaitan dengan kondisi fisik candi. Candi Borobudur tampak memikat karena wujudnya yang tersusun dari batu-batu vulkanis. Batu vulkanis amat mendukung untuk mengaktualisasikan seni pahat tingkat tinggi. Tak heran kalau ratusan patung dan ribuan pahatan relief dindingnya relatif utuh untuk dinikmati hingga kini.

Kondisi ini berbeda dengan candi-candi di Sumatera. Mayoritas candi di Sumatera dibangun dengan bata dari tanah liat merah. Akibatnya banyak relief dan dinding candi yang tidak tahan diuji waktu.

—————————————-
Menurut para arkeolog, perbedaan ini dapat dijelaskan dengan satu teori, yakni teori langgam candi. Ada tiga langgam yang mempengaruhi arsitektur dan style candi, yakni langgam Jawa Tengah Utara, langgam Jawa Tengah Selatan, dan langgam Jawa Timur. Borobudur termasuk dalam langgam Jawa Tengah Selatan. Sedang candi Muaro tergolong langgam Jawa Timur-an.
——————————————–

Ada sekitar 7 candi yang sudah direkonstruksi ulang di situs candi Muaro. Candi yang utuh itu adalah candi Astano, candi Tinggi, candi Gumpung, candi Kembar Batu, candi Gedong, candi Kedaton, dan candi Koto Mahligai. Selain itu, puluhan stupa dan sejumlah arca berhasil dieskavasi. Di antaranya arca Prajnaparamita, arca Dwarapala yang berwajah ramah, dan arca gajah yang dinaiki singa.

Berita baiknya, masih ada ratusan candi yang terkubur di situs seluas 120 ha itu. Saat ini, menurut para pengelola situs candi Muaro, dibutuhkan dana yang tidak sedikit untuk merekonstruksi ulang candi-candi yang terkubur itu.Gundukan atau bukit kecil menjadi pertanda “kuburan” candi-candi baru.

Apa yang membuat saya yakin bahwa situs candi Muaro adalah biara pendidikan agama Buddha era Sriwijaya yang tersohor itu? Candi Muaro adalah situs teologi yang komplit. Selain luas area dan ratusan candi pemujaan, di sana juga ditemukan sisa-sisa bangunan asrama tempat tinggal para bikkhu. Yang lebih spektakuler, waduk—yang diasumsikan sebagai reservoir konsumsi para bikkhu—masih utuh hingga kini.

Peran internasional candi Muaro ini juga didukung dengan penemuan keramik dan mata uang mulai jaman dinasti Tang, Sung, hingga dinasti Ming. Cukup logis jika kawasan candi Muaro menjadi lokasi pemukiman ribuan bikkhu yang belajar di Sriwijaya.

—————————–
Apalagi sejumlah peneliti mengatakan bahwa pusat kerajaan Sriwijaya mengalami beberapa kali perpindahan. Ini memang salah satu ciri alamiah dari kerajaan maritim. Mereka mengembangkan satu sistem budaya yang disebut riverine culture. Budaya yang ditandai dengan pusat aktivitas hidup di pelabuhan dan pemukiman penduduk yang mobile dalam rumah perahu. Ini sejalan dengan sistem transportasi utama mereka yang memakai jalur sungai.
————————————

Sebagian arkeolog berpendapat dari abad ke VII hingga akhir abad VIII, Sriwijaya berpusat di Palembang. Sedang pada periode keemasan Sriwijaya yang dimulai sejak abad ke IX, ibu kotanya dipindahkan ke Jambi.

——————————–
Asumsi ini didukung oleh beberapa prasasti yang ditemukan di Palembang maupun di Jambi dengan urutan penanggalan tahun Saka. Semua prasasti yang ditemukan di Palembang bertahun 600-800-an Masehi. Sedang prasasti di Jambi berangka tahun 900-an Masehi.
———————————–

Anehnya, saat ini tak satu pun penduduk setempat sadar dengan sejarah dan kebesaran candi Muaro. Mereka malah merasa asing dengan keberadaan candi itu. Seakan-akan ada bagian yang dipotong dari sejarah sosial mereka. Bagaimana mungkin masyarakat Melayu pesisir timur bisa menderita “amnesia” sejarah yang begitu berat?

Ada sejumlah teori yang menjelaskan situasi ini. Pendapat pertama menyatakan bahwa pasca kemunduran Sriwijaya sekitar abad XIII, para bangsawan dan ribuan bikkhu itu dibantai oleh perompak Cina atau pasukan Majapahit.

Teori lain menyebutkan, akibat serbuan perompak Cina dan armada Majapahit, kemungkinan sebagian bangsawan dan bikkhu itu melarikan diri ke Malaysia atau Thailand. Jadi, sisa penduduk yang ada sekarang bukan keturunan langsung dari komunitas masyarakat masa itu.

Tugas sejarah kita masih panjang. Diperlukan ketekunan para sejarawan dan arkeolog untuk mengungkap kembali kejayaan Sriwijaya. Jika Anda menghabiskan malam purnama di situs candi Muaro, ingatlah ratusan tahun yang lalu bikkhu Darmakirti bersama ribuan muridnya pernah menatap purnama yang sama.

teks oleh wirastuti

insidesumatera.com


“Kakak,” bisik Bung Karno pada Gubernur Militer Aceh, Langkat dan Tanah Karo, Mayor Jenderal Daud Beureueh, pada sebuah kunjungan penting di Kutaraja (sekarang Banda Aceh) tanggal 16 Juni 1948. “Tolong sampaikan kepada seluruh rakyat Aceh untuk berjuang sampai titik darah penghabisan demi tegaknya syariat Islam di sini. Katakanlah, Bung Karno yang menjamin. Sebagai ulama, apa yang Kakak katakan selalu menjadi pedoman umat”. (Jihad Akbar di Medan Area: Amran Zamzami)

Boleh dikatakan, teritori Indonesia pada pertengahan tahun 1948, hanya tinggal selembar daun bernama Aceh. Yogyakarta sebagai ibukota sudah terjepit setelah Agresi Belanda I tanggal 21 Juli 1947. Daerah lain pun sudah dijamah Belanda. Bung Karno sadar bahwa Sumatera, khususnya Aceh adalah pertahanan terakhir kedaulatan Indonesia. Untuk itu, ia tiba di sana untuk menitipkan pesan kepada seluruh rakyat Aceh agar bertahan sampai titik darah penghabisan. Di Lapangan Blang Padang, ia menyalakan api revolusi paling menentukan dalam sejarah republik ini. Dan rakyat Aceh menepati janjinya dengan satu persembahan juang yang penuh kenangan di Sumatera bagian barat. Eskalasi pertempuran yang diperlihatkan pemuda-pemuda Aceh dan Sumatera Utara secara keseluruhan dikenal sebagai Pertempuran Medan Area.

Dalam beberapa kesempatan orasinya, Bung Karno menyebut Aceh sebagai “daerah modal”, baik secara material maupun spritual bagi perjuangan Indonesia. Di hadapan Abu Beureueh, pemimpin revolusi yang keletihan ini menitikkan air mata, menyandarkan beban yang dipikulnya sejenak kepada sosok kharismatis yang dipanggilnya sebagai “kakak”.

Dan, tulisan ini pun harus saya mulai dari Aceh…

***

Meski tidak pernah disebutkan secara lugas dalam literatur sejarah kita yang timpang, Bung Karno adalah satu-satunya pemimpin RI yang punya hubungan istimewa dengan rakyat Sumatera. Dalam perjalanannya, hubungan itu memang mengalami pasang surut, tapi semuanya diawali dengan manis, romantis, dan melibatkan ikatan batin yang kuat.

Ia beberapa kali dibuang di Sumatera, seperti di Parapat, Berastagi, Bengkulu dan Bangka. Di semua tempat itu, Bung Karno tidak pernah merasa kesepian karena ditemani banyak sahabat di Sumatera. Semua tempat yang ia singgahi di pulau ini selalu menyisakan nostalgia dan jejak seorang penyambung lidah rakyat. Bung Karno dekat dengan orang Sumatera, baik secara personal maupun massal.

Di Lapangan Blang Padang, Aceh, Bung Karno menyapa ratusan ribu pemuda dan rakyat dengan orasi yang menantang:

“Di Palembang aku mendapati rakyat dan pemuda memekikkan ‘merdeka’ sepuluh menit lamanya. Di Bukittinggi lima belas menit lamanya pekik ‘merdeka’ dikumandangkan. Let’s freedom ring! Mari kita pekikkan ‘merdeka’ bersama-sama. Aku ingin tahu bagaimana di Aceh ini”.

Selepas Bung Karno mengangkat tangan seraya mengumandangkan kata “merdeka”, Blang Padang meledak seperti lautan yang marah. Ratusan ribu rakyat yang memadati dataran itu menggila dengan pekikan ‘merdeka’ hingga tujuh belas menit lamanya. Suara Bung Karno tenggelam dalam gelombang besar, dan ia harus menyetop ekspresi perjuangan panjang itu dengan bujukan, “sudah, sudah, cukup”.

Dalam kunjungan pertamanya ke Kutaraja (sekarang Banda Aceh), Bung Karno langsung berhasil mencuri hati orang Aceh. Ia tidak hanya datang sebagai presiden, tapi juga sebagai sahabat, adik, dan teman seperjuangan. Orang-orang Aceh menerimanya dengan hangat di tanah yang merdeka. Dari Aceh, Bung Karno tidak dibiarkan pulang dengan tangan hampa. Ia dibekali oleh-oleh berupa 25 kilogram emas untuk membeli pesawat Dakota yang nantinya bisa digunakan untuk tugas-tugas pemerintahan antar-pulau.

Uang emas itu dikumpulkan para saudagar dan rakyat Aceh yang tergabung dalam Gabungan Saudagar Indonesia Daerah Aceh (GASIDA) hanya dalam satu malam. Selepas istirahat, Residen Aceh, Teuku Chik M. Daudsyah yang mewakili saudagar dan rakyat Aceh mengumumkan bahwa mereka menyanggupi untuk membeli dua unit pesawat Dakota, masing-masing seharga 25 kilogram emas murni.

Dalam penerbangan pulang dari Aceh menuju Yogyakarta, Bung Karno telah “mengantongi” 25 kilogram emas di saku bajunya. Sebanyak 25 kilogram lainnya menyusul dikirimkan ke Yogyakarta. Uang itu dibelanjakan untuk membeli pesawat pertama Indonesia lewat Singapura oleh perwira penerbang Wiweko Soepono yang kelak menjadi direktur utama Garuda. Pembelian itu dilakukan pada Oktober 1948 dan pesawatnya diberi registrasi RI-001 Seulawah. Nama “Seulawah” sendiri adalah sebutan sebuah gunung yang terkenal di Aceh.

Pesawat RI-001 kemudian menjadi cikal bakal berdirinya maskapai Garuda Indonesia sebagai flag carrier di negeri ini. Pada awal-awal operasinya, pesawat ini sangat berjasa menghubungkan Jawa dan Sumatera, serta mengangkut obat-obatan dari Burma dan India. Penerbangannya dilakukan pada malam-malam yang gelap gulita agar tidak terdeteksi musuh. Pesawat biasanya mendarat di Lapangan Udara Lhoknga atau Blang Bintang setelah adanya pemberitahuan terlebih dahulu dari udara. Begitu mendapat konfirmasi pendaratan, para pemuda Aceh akan membakar daun kelapa kering sebagai tanda bahwa lokasi pendaratan telah siap. Pada siang harinya, tubuh pesawat ditutupi dengan daun dan rerumputan agar luput dari pengintaian udara Belanda.

Jadi, Garuda Indonesia adalah buah persahabatan yang indah antara Bung Karno dan rakyat Aceh. Bila Anda berkunjung ke Aceh, jangan lupa berhening cipta di depan monumen duplikat pesawat Dakota RI-001 Seulawah di Blang Padang, persis di jantung Kota Banda Aceh. Rakyat Aceh memang punya ekspresi kemerdekaan yang kuat, dan mereka adalah para nasionalis sejati.

***
Di Sumatera Utara, perkenalan Bung Karno dengan rakyat Batak bermula dari pembuangannya di Kota Berastagi dan Parapat pada akhir tahun 1948. Di kedua tempat ini, jejak sang proklamator tidak hanya terlihat dari bangunan fisik saja, tapi juga sampai pada loyalitas politik yang berlangsung hingga sekarang. PDIP adalah salah satu partai warisan Bung Karno yang selalu mendapat suara mayoritas di Tanah Karo. Di rumah-rumah tua yang sederhana, poster buram Bung Karno sering menghiasi dinding penduduk.

Konon, Bung Karno pernah akan dieksekusi oleh pihak Belanda pada suatu pagi di sebuah tempat di Bukit Kubu, Berastagi. Seorang pelayan setia Bung Karno mengetahui hal itu secara tak sengaja. Ia mulanya bermaksud menanyakan menu makanan apa yang akan diberikan pada Bung Karno keesokan harinya. Tentara pengawal itu mengatakan, “Tidak usah, ia akan dieksekusi besok pagi”.

Tapi hanya beberapa hari di kota sejuk itu, tepat pada hari ketika ia akan dieksekusi, rencana Belanda berubah karena sebuah alasan. Mereka memutuskan, Kota Berastagi tidak akan bisa dipertahankan lagi karena adanya gerakan kelompok pejuang di sekitar kawasan itu. Tapi meskipun hanya beberapa hari bermalam di Wisma Bukit Kubu, dalam pengawalan ketat tentara Belanda serta dikelilingi kawat berduri, semangat Bung Karno menular ke mana-mana. Rakyat Karo adalah pengikut setia Bung Karno, sampai kini.

Dari Berastagi, Bung Karno dilarikan ke Parapat. Ia ditahan di sebuah rumah Belanda yang cantik dan langsung menghadap ke Danau Toba. Selama penahanannya di sini, terjadi dua kali insiden. Sekelompok pemuda mencoba menyusup untuk membebaskan Bung Karno dari arah danau. Mereka menggunakan perahu kecil secara diam-diam. Tapi upaya itu gagal. Semua pemuda malang itu tewas ditembak penjaga.

Pelayan Bung Karno, Ludin, kemudian melakukan kontak dengan laskar gerilya di sekitar Kota Parapat. Lewat warga lokal yang setia ini, Bung Karno dapat menjalin komunikasi dengan para pejuang gerilya. Komunikasi rahasia itu dimulai dari pasar rakyat. Ludin yang sehari-hari belanja untuk makanan Bung Karno, membeli ayam atau ikan. Di bawah sayap ayam itu sudah diselipkan kertas informasi dari para pejuang yang menyamar sebagai pedagang di pasar. Bung Karno pun memberikan perintah atau balasan lewat medium yang sama.
Pada suatu malam yang mendung, laskar pemuda yang tidak sabar memberi tahu akan menyerang langsung wisma penahanan itu. Bung Karno mencoba memberi tanda bahwa penjagaan terlalu ketat dengan menyuruh Haji Agus Salim menyalakan lilin di depan. Tapi terlambat. Tembak menembak kadung terjadi. Sebagian besar anggota laskar pemuda itu gugur.
Di tengah suasana revolusi yang panas, Bung Karno masih sempat manjat mangga udang di tepian Danau Toba. Sore-sore dan pagi-pagi, beliau tak segan-segan buka baju, melipat celana, lalu memeluk pohon mangga seperti anak-anak di pedalaman. Rupanya Bung Karno jago panjat juga. Kalau ikut acara panjat pinang tujuhbelasan, pasti dapat banyak hadiah.
Pelayannya selama di pembuangan tidak berkutik melarangnya. Ia memanjat sendiri pohon-pohon mangga itu karena sangat suka dengan mangga kecil berkulit kuning bening yang sekarang lebih dikenal dengan mangga parapat. Di kota ini pun, Bung Karno meninggalkan kesan yang kuat untuk rakyat Batak dan beberapa orang lokal yang setia melayani pemimpinnya.
Bila Anda punya waktu berkunjung ke Kota Parapat, maka Anda akan menemukan satu pesanggrahan bangunan kolonial yang sangat indah di tepian Danau Toba. Di sanalah Bung Karno pernah tinggal sambil menikmati mangga.

***
Di Bukittinggi, Sumatera Barat, sosok Bung Karno jelas bukan orang asing lagi. Para politisi dari Minangkabau adalah orang-orang yang banyak berperan dalam perjuangan politik dan diplomasi RI di samping Bung Karno. Meski berbeda cara pandang dalam berbagai hal, beliau tetap bisa berdampingan dengan seorang tokoh besar kelahiran Bukittinggi, yakni Bung Hatta. Keduanya ibarat paket dalam sejarah revolusi Indonesia yang berkobar.

Pada masa pendudukan Jepang, Bung Karno pernah tinggal di Bukittinggi atas undangan penguasa militer Dai Nippon. Di sana ia bersahabat dengan para ulama, pemilik toko-toko Cina, dan rakyat yang selalu siap sedia memenuhi permintaan-permintaannya. Masa pendudukan Jepang adalah masa paling serba sulit bagi Bung Karno sebagai figur publik. Semasa ini, beliau disudutkan pada pilihan-pilihan pahit untuk bekerja pada Jepang. Komandan Divisi Propaganda Jepang, Kapten Sakaguchi, dan Komandan Militer Bukittinggi, Kolonel Fujiyama, memintanya menjadi alat propaganda Jepang dengan janji kemerdekaan bagi Indonesia. Kontra propaganda dari Sekutu lantas menyebutnya sebagai kolaborator Jepang yang telah mengirimkan ratusan ribu romusha, di mana ribuan di antaranya tidak pernah kembali ke tanah air. Tapi rakyat Minangkabau tidak pernah termakan propaganda itu. Mereka tetap berdiri di samping pemimpinnya.

Bahkan ketika Fujiyama meminta Bung Karno menyediakan tempat prostitusi untuk tentara Jepang yang kesepian, rakyat tetap bisa memahami kesulitan sang pemimpin. Para ulama setempat, termasuk H. Agus Salim, membuat kajian kritis terhadap situasi itu, lalu menyimpulkan tidak mengeluarkan larangan demi kepentingan kemerdekaan Indonesia yang lebih besar. Mereka juga tahu Bung Karno tidak pernah menerima apa-apa dari Jepang, meski ditawari berbagai macam fasilitas dan uang oleh pimpinan militer. Ia hanya menerima sebuah mobil Buicks hasil rampasan dari Belanda demi kepentingan komunikasi yang lebih mudah dengan rakyat. Mobil itu tidak pernah dibekali minyak, dan Bung Karno tidak punya uang.

Rakyat Minanglah yang membiayai minyaknya. Mereka juga memenuhi permintaan Bung Karno untuk menyerahkan berton-ton beras untuk logistik serdadu Jepang. Mereka mengirim obat-obatan untuk Bung Karno yang selalu sakit-sakitan karena mengidap malaria. Demi Bung Karno dan kemerdekaan, semua itu gratis.
Pernah suatu ketika, tas Bung Karno yang ia titipkan di rumah temannya, dicuri oleh seseorang. Di dalam tas itu, ada kalung Bu Inggit, isteri keduanya. Setelah rakyat tahu bahwa itu milik Bung Karno, keesokan harinya tas langsung dikembalikan. Si pencuri yang akhirnya ketahuan, diadili secara adat oleh masyarakat. Tapi atas permintaan Bung Karno sendiri, ia dilepaskan.

Pada masa perjuangan kemerdekaan 1945-1950, Bukittinggi pernah memegang posisi sentral. Setelah agresi militer Belanda tahun 1947, kota kedua di Sumatera Barat ini merangkap sebagai ibukota Keresidenan Sumatera Barat, ibukota Provinsi Sumatera, dan sekaligus ibukota Republik Indonesia kedua setelah Yogyakarta.
Ketika nasib Republik Indonesia di tangan Soekarno-Hatta terancam tenggelam, keputusan-keputusan penting yang sangat bersejarah diambil di Bukittinggi. Setelah ditangkapnya Soekarno-Hatta, menyusul jatuhnya Yogyakarta ke tangan Belanda, rakyat dan para pemimpin di Bukittinggi menyelenggarakan pemerintahan darurat. Bukittinggi adalah tali penyambung kepemimpinan Bung Karno ketika republik ini terancam rubuh.

***
Di Bengkulu, Bung Karno mengenal rakyatnya lewat masa-masa pembuangan yang panjang sebelum era kemerdekaan. Ia dipindahkan dari Flores pada tahun 1938 berkat protes anggota Volksraad di Jakarta. Kabar bahwa Bung Karno sakit rupanya bocor juga ke Jakarta. Di Flores, Bung Karno terjangkit malaria. Dalam kondisi yang menggigil, ia dimasukkan ke kapal barang jurusan Surabaya, untuk selanjutnya menuju Bengkulu.

Pada awalnya, Bengkulu bukan tempat yang menarik bagi Bung karno. Ia menyebut tempat ini sebagai kota kecil yang sepi dan bergunung-gunung. Penduduknya kebanyakan Muslim ortodok. Mereka semua cuek pada Bung Karno. Hanya satu orang yang memberikan perhatian khusus, yakni kepala sekolah Muhammadiyah setempat, Pak Hassan Din. Ia sering datang berkunjung bersama seorang anak perempuannya yang kurus ke rumah pembuangan. Lebih jauh, Pak Hassan Din meminta Bung Karno mengajar di sekolahnya. “Asal jangan bicara politik,” pesan Pak Hassan.
“Jangan khawatir,” jawab Bung Karno. “Hanya saja saya akan bilang pada murid-murid bahwa Muhammad, nabi besar Islam, adalah sosok yang sangat mencintai tanah airnya”.
Dalam kelas, Bung Karno punya teman-teman kecil. Salah satu di antara mereka adalah Fatmawati, putri Pak Hassan sendiri. Gadis kecil yang cantik ini sangat dekat dengan Bung Karno dan suka menanyakan banyak hal tentang agama. Anak-anak didik itu semuanya dianggap Bung Karno sebagai anak sendiri karena ia tak punya keturunan dari Inggit. Setelah dewasa, dialah yang mencarikan jodoh bagi sebagian besar 300 anak angkat dan muridnya itu.
Para orangtua di Bengkulu sangat senang dengan perhatian Bung Karno, dan mereka pun mulai akrab dengannya. Mereka tidak hanya menganggapnya sebagai sahabat, tapi juga semacam guru spritual kampung, tempat bertanya dan mengadukan masalah. Bila ada persoalan, mereka panggil Bung Karno. Mau bangun rumah, Bung Karno yang bikin desainnya. Orang yang kehilangan kerbau datang ke Bung Karno. Orang yang mau mengawinkan putrinya melapor ke Bung Karno. Dan suatu ketika, orang yang kesulitan uang datang juga ke Bung Karno. Barulah sang orator hebat ini kalang kabut, karena Bung Karno adalah manusia kere, nggak pernah simpan uang. Akhirnya Bung Karno pergi keluar rumah menjajakan pakaiannya yang paling bagus. Baju itu laku seharga 3 guilders 60 sen, persis sebanyak uang yang dibutuhkan si pemohon itu.
Bung Karno sendiri akhirnya menikah dengan salah satu anak asuhnya, Fatmawati, yang kala itu sudah berusia 17 tahun. Gadis Bengkulu keturunan Jawa inilah yang kelak menjahitkan pusaka Merah Putih yang kini tersimpan di Istana Negara. Bendera itu berkibar pertamakali di Pegangsaan Timur sebagai saksi dibacakannya teks proklamasi oleh Bung Karno dan Bung Hatta.
Sampai sekarang, jejak Bung Karno di Bengkulu masih terpelihara berupa sebuah bekas rumah tahanan di kota pinggir laut itu.

***
Bung Karno tak pernah dibuang ke Palembang, Sumatera Selatan. Hanya saja, ia pernah lewat di sini ketika akan kembali ke Jawa setelah sekitar 7 tahun tinggal di Sumatera. Waktu itu, Jenderal Imamura, panglima militer Jepang yang bermarkas di Jawa, meminta Sukarno pulang ke Jakarta untuk ikut dalam pembentukan panitia sipil untuk persiapan kemerdekaan. Dari Bukittinggi, Bung Karno dengan pengawalan serdadu Jepang berangkat menuju Palembang, untuk selanjutnya naik kapal ke Jawa.

Tapi di dekat Palembang, terjadilah satu insiden mengerikan yang membuat Bung Karno tidak mungkin melupakan kota ini. Satu jeep dan mobil van yang melaju kencang di depannya terbalik dan ringsek. Seorang kapten yang membawa jeep dalam kondisi kritis. Sementara dua perwira yang menumpang van berhasil keluar dan tampak terburu-buru.

Sebuah urusan mengharuskan mereka segera sampai ke Palembang. Mobil Buick Bung Karno disita paksa. Ia sudah memperlihatkan surat kepemilikan berdasarkan tandatangan komandan mereka, tapi para perwira itu tidak peduli. “Ini emergency,” kata mereka.
Bung Karno kehilangan mobilnya, dan ia ditinggalkan di tengah jalan dalam keadaan berdiri bersama istri dan sangkar burungnya. Sangkar itu berisi Tuktuk Satu dan Tuktuk Dua, sepasang perkutut yang dipeliharanya sejak ditahan di Bengkulu. Beberapa lama kemudian, polisi militer sampai di lokasi kecelakaan. Mereka memeriksa beberapa hal. Kendaraan yang muncul kemudian adalah sebuah truk pengangkut milik swasta. Truk itu dipaksa berhenti, dan Bung Karno beserta beberapa orang lain disuruh naik ke atasnya. Kini, giliran pengemudi truk itu yang tertinggal berdiri di tengah jalan.
Ada dua penumpang lain dalam truk itu. Yang pertama adalah seorang Indonesia dengan wajah berdarah dan kepala yang kaku. Ia terlempar dari van yang terbalik dan sudah mati. Bung Karno tak mengenalnya, tapi ia tak sampai hati membiarkan mayat itu tertinggal tanpa penguburan yang layak. Yang kedua adalah seorang Jepang yang terluka. Dialah yang ditunjuk mengemudikan truk itu. Tapi kemudian masalah muncul. Inggit yang disuruh duduk di depan mobil tidak mau berdampingan dengan supir Jepang tersebut. Akhirnya Bung Karno meletakkan sangkar Tuktuk Satu dan Tuktuk Dua di antara mereka.
Sesampai di Palembang, Bung Karno ditahan oleh serdadu Jepang, lalu dibawa ke markas Kempetai (polisi rahasia). Di sana ia bertengkar dengan polisi yang mempersulit penyeberangannya ke Jawa. Akhirnya setelah ditahan berhari-hari, Bung Karno menyeberang dengan boat kecil tanpa atap dan digoyang ombak berjam-jam di Selat Sunda. Untunglah mereka selamat.

***
Wisma Menumbing berada di sebuah puncak bukit berketinggian sedang di Kecamatan Mentok, Bangka Barat. Dari Kota Mentok, bukit ini berjarak 10 km. Di wisma inilah Bung Karno bersama sejumlah pemimpin RI lainnya ditahan pada akhir tahun 1948 sampai tahun 1949. Bung Karno sendiri tiba di sini setelah diterbangkan dari Parapat dengan pesawat Catalina. Bangunan wisma dikelilingi hutan lindung yang lebat. Jalur masuk satu-satunya menuju puncak adalah sebuah jalan sempit (lebar sekitar 2 meter) yang membelah hutan lindung dan “melukai” lereng secara tajam.

Bung Karno tidak tinggal lama di Bukit Menumbing karena penyakit malarianya kambuh oleh udara perbukitan yang dingin. Selanjutnya Belanda memindahkannya ke Kota Mentok dan tinggal di sebuah rumah yang kini bernama Pesanggrahan Ranggam.

Di Mentok, Bung Karno disambut hangat oleh rakyat Bangka. Ribuan masyarakat mengunjunginya selama di pembuangan. Rasanya, pihak Belanda pun harus menghormatinya. Bung Karno yang dalam keadaan sakit di pengasingan, selalu tampak segar dan ceria bersama rakyatnya. Dalam ruang gerak yang sempit di Bangka, ia masih sempat membentuk tim sepakbola, Persatuan Wanita Indonesia (Perwani) dan mengangkat anak-anak asuh dari masyarakat miskin setempat.

Hingga kini, Wisma Jati Menumbing yang merupakan bekas penahanan Bung Karno masih dirawat sebagai saksi sejarah. Bung Karno menginap dalam satu kamar kecil berisi dua tempat tidur sederhana dan satu kamar mandi. Sebelum memasuki kamar itu, terdapat ruang kerja sekaligus ruang tamu di mana Bung Karno menjalankan tugas-tugas kepemimpinan, menyusun surat delegasi, dan sebagainya. Bung Karno memang sangat dihormati oleh para opsir Belanda. Kharismanya tidak hanya berlaku pada rakyat Indonesia saja.

Perlakuan Belanda berbeda terhadap pemimpin-pemimpin Republik lain seperti Bung Hatta, Agus Salim, Roem dan lain-lain yang lebih dulu tiba di pembuangan. Mereka sempat dikerangkeng besi selama 17 hari dalam satu ruangan, sampai akhirnya seorang utusan dari Amerika Serikat berkunjung ke sana membawa sejumlah reporter internasional dari berbagai negara. Pemberitaan para reporter mengenai cara penahanan para pemimpin kita itu memunculkan gelombang protes, terutama dari negara-negara Asia. Akhirnya Belanda memperlunak cara mereka, dan membuka kerangkeng tersebut.

Khusus untuk Bung Karno, selama masa pembuangan di Bangka, pihak Belanda menyediakan satu mobil merek Ford berplat BN10. Mobil kuno yang ia gunakan sehari-hari di Mentok sampai kini masih dipelihara dan dipamerkan di atas Bukit Menumbing, persis di ruang utama Wisma Jati Menumbing.

***
Demikianlah model persahabatan antara Bung Karno dan rakyat Sumatera. Ketika para pemimpin di Jawa masih sibuk dengan pertengkaran yang tidak perlu menyangkut jadwal proklamasi, bentuk pemerintahan dan NKRI, rakyat Sumatera sudah lebih dahulu memperlihatkan sumbangan perjuangan dan persahabatan yang mengesankan. Setelah Indonesia merdeka, lagi-lagi rakyat Sumatera yang mengirim emas, perak, karet, hingga ganja untuk dijual sebagai modal perjuangan.

Kabinet Sukarno berhasil mengumpulkan sumbangan dari Sumatera berupa 9 kg emas, 300 kg perak dan 8.000 ton karet untuk panjar pembelian 20.000 pakaian seragam. Dua pesawat Dakota bekas juga dapat dibeli karena sumbangan orang-orang di pulau ini. Seorang pilot Amerika yang bersimpati pada perjuangan RI menawarkan diri untuk menerbangkan Dakota tersebut dan membawa Bung Karno ke mana-mana. Namanya Bob Freberg. Dia jatuh di Palembang pada tahun 1947 ketika Bung Karno menyuruhnya terbang membawa uang untuk membiayai gerilyawan Sumatera.

Bung Karno selalu mendapat dukungan paling kuat dari Sumatera, kecuali ketika dia mulai tua dan lupa bahwa setiap daerah sebenarnya ingin menentukan nasibnya sendiri. Salah satu bentuk pembangkangan rakyat Sumatera terhadap hegemoni dan monolitik adalah pemberontakan PRRI. Untunglah Hatta menolak menyeberang ke Sumatera waktu itu.

Kalau tidak, bisa jadi Indonesia yang kita kenal sekarang adalah negara minus Sumatera. Pada zaman Orde Baru, hal itu dilakukan GAM. Tapi lagi-lagi dapat direintegrasi. Itu semua adalah cerminan bahwa rakyat Sumatera sesungguhnya menyimpan satu nasionalisme yang kuat. Yakni satu nasionalisme yang tidak bisa disamakan dengan bendera partai, konsep NKRI, bentuk kenegaraan, dan lain-lain. Karena nasionalisme adalah sebentuk esensi, bukan kata-kata atau hegemoni sekelompok penguasa saja.

Kisah-kisah ini disarikan dari buku “Jihad Akbar di Medan Area” (Amran Zamzami) dan “Sukarno: An Autobiography as Told to Cindy Adams”.
teks oleh tikwan raya siregar
foto repro oleh putra perwira lubis

insidesumatera.com

by. Silvie Azhar


Tahukah Anda, tradisi pergantian Raja Deli masih terus dilaksanakan di Istana Maimoon Medan. Saat ini yang menduduki tahta adalah Raja Deli XII bernama Sultan Azmi Perkasa Alam. Upacara pergantian raja ini memang kurang mendapat perhatian warga, namun tetap lestari sejak abad 16 silam.

Tak bisa dibantah, sejarah kota Medan tak terpisahkan dari kehadiran Kerajaan Melayu Deli. Sebanyak 12 orang raja telah memimpin kerajaan ini sejak berdirinya pada abad 16. Ketika itu, Kerajaan Aru di daerah Sungai Lalang — Deli Tua sekarang — ditaklukkan pasukan Kerajaan Aceh di bawah pimpinan Panglima Hisyamuddin. Nama terakhir ini adalah seorang turunan dari negeri Shindi Hindustan.

Selanjutnya ia diangkat oleh Sultan Iskandar Muda dari Kerajaan Aceh sebagai wakil kerajaan untuk daerah Sumatera Timur dengan gelar Panglima Gocah Pahlawan. Pada tahun 1632 Kerajaan Aceh selanjutnya menetapkan berdirinya Kerajaan Deli. Panglima Gocah Pahlawan diangkat menjadi Raja Deli I dengan gelar ‘’Tuanku Panglima Gocah Pahlawan”, pada saat itu Kerajaan Deli berkedudukan di Sungai Lalang. Ia berkuasa selama 37 tahun, dan pada tahun 1669 beliau mangkat.

Tampuk pimpinan kerajaan selanjutnya dipegang Tuanku Panglima Parunggit. Raja Deli II mulai memerintah pada tahun 1669. Kemudian ia memindahkan pusat kerajaan ke daerah Padang Datar (Medan sekarang). Ia memerintah di kerajaan ini selama 29 tahun. Pada tahun 1698 ia mangkat dan diberi gelar “Marhum Kesawan”.

Selanjutnya pimpinan kerajaan diserahkan pada Tuanku Panglima Padrap yang diangkat menjadi Raja Deli III. Ia pun sempat memindahkan pusat kerajaan ke daerah Pulo Brayan sekarang. Beliau berkuasa hingga tahun 1728.

Tuanku Panglima Pasutan menjadi Raja Deli IV dan mulai memerintah dari tahun 1728. Tak beda dengan pendahulunya, ia pun memindahkan lagi Kerajaan Melayu ke Labuhan Deli serta memberi gelar “Datuk” kepada kepala-kepala suku yang merupakan penduduk asli Kerajaan Deli. Para kepala suku itu terkenal dengan sebutan Datuk 4 Suku.

Keempat suku (daerah) yang memperoleh gelar tersebut masing-masing daerah Sepuluh Dua Kuta (daerah Hamparan Perak dan sekitarnya), Serbanyaman (daerah Sunggal dan sekitarnya), Sinembah (daerah Patumbak, Tanjung Morawa dan sekitarnya) serta Sukapiring (daerah Kampung Baru dan Medan sekitarnya). Tuanku Panglima Pasutan berkuasa sampai tahun 1761.

Pada tahun itu juga, Raja Deli berganti lagi. Di bawah kekuasaan Tuanku Panglima Gandar Wahid selaku Raja Deli V, kedudukan Datuk Empat Suku semakin kokoh. Gandar Wahid mangkat tahun 1805.

Tampuk kekuasaan selanjutnya diwariskan pada putra ketiga Panglima Gandar Wahid, yaitu Sultan Amaludin Mengedar Alam. Ia tercatat sebagai Raja Melayu VI. Pada masa pemerintahannya, hubungan Kerajaan Melayu sudah lebih dekat dengan Kerajaan Siak ketimbang Kerajaan Aceh. Ia sendiri memerintah sampai tahun 1850.

Selanjutnya Sultan Osman Perkasa Alamsyah naik tahta. Raja yang satu ini hanya berkuasa selama delapan tahun. Namun meskipun singkat, di bawah kekuasaannya Kerajaan Deli bisa kembali dekat dengan Kerajaan Aceh. Hal ini ditandai dengan pemberian Pedang Bawar dan Cap Sembilan.

Pada tahun 1858, Raja Deli VIII dipegang Sultan Mahmud Al Rasyid Perkasa Alamsyah. Sultan ini memerintah hingga tahun 1873, dan kerjasama dengan Belanda mulai dijalinnya. Hal ini ditandai dengan pembukaan lahan tembakau di daerah Kerajaan Deli.

Kedekatan kerajaan dengan Belanda makin erat setelah naiknya Sultan Ma’mun Al Rasyid Perkasa Alamsyah. Boleh dibilang, ini adalah era keemasan Kerajaan Melayu Deli. Di bawah kekuasaannya perdagangan tembakau semakin makmur dan mencapai puncaknya. Ia kemudian memindahkan pusat kerajaan kembali ke Medan dan mendirikan Istana Maimoon pada tanggal 26 Agustus 1888 dan diresmikan pada 18 Mei 1891. Ia juga mendirikan bangunan lain seperti Mesjid Raya Al Mahsun pada tahun 1907, serta beberapa bangunan bersejarah lainnya. Ma’mun memimpin kerajaan sampai tahun 1924.

Pemerintahan selanjutnya diteruskan Sultan Amaluddin Al Sani Perkasa Alamsyah dari tahun 1924 hingga 1945. Pada masa pemerintahannya, hubungan dagang dengan kerajaan-kerajaan di nusantara terjalin dengan baik. Ini terbukti dengan adanya pengembangan pelabuhan laut. Pada tanggal 17 Agustus 1945, Republik Indonesia memproklamirkan kemerdekaan, dan Pemerintah Kesultanan Deli mengakui kedaulatan Negara Republik Indonesia. Kedudukan sultan-sultan selanjutnya diubah menjadi Penguasa Adat Istiadat dan Kebudayaan Melayu Deli.

Pada tahun 1945, Sultan Amaluddin Al Sani Perkasa Alam menyerahkan kedudukannya kepada putra tertuanya, Sultan Osman Al Sani Perkasa Alam yang memerintah hingga tahun 1965.

Sejak Tahun 1965, Kerajaan Deli dipimpin oleh Penguasa Tertinggi Adat Melayu yang juga merupakan putra Sultan Osman Al Sani Perkasa Alam, yaitu Sultan Azmi Perkasa Alam. Sultan terakhir ini masih berkuasa sampai sekarang. Tradisi pergantian raja di Istana Maimoon masih dilakukan dengan khidmat, meski pemerintahan modern telah lama dikenal di negeri ini.

Ibarat pepatah Melayu, “Takkan hilang Melayu ditelan bumi”. Pada masa mendatang, Sultan Melayu akan tetap ada walau kekuasaannya tak lagi sehebat dulu.        insidesumatera.com

by. Tikwan Raya Siregar


Tekanan gas dari perut bumi terdengar mendesis lemah dan kadang tersendat. Suara itu berasal dari salah satu pipa besi tua yang berkarat di dusun Lokasi, desa Securai, Langkat. Gas yang mencari jalan keluar melalui pipa bor membawa serta minyak mentah yang seterusnya dialirkan lewat seuntai selang yang berakhir pada tumpukan puluhan drum sekitar 15 meter di dataran yang lebih rendah.

Baunya begitu menyengat. Minyak itu ditampung pada drum-drum bermuatan 209 liter (sekitar 1,5 barrel). Dalam satu hari, 3 petugas yang diupah Pertamina dapat mengumpulkan 3 drum (4,5 barrel) minyak mentah. Bila asumsi harga minyak sekarang ini US$ 60 per barrel, maka penghasilan sumur minyak yang sudah uzur itu sekitar US$ 270 per hari atau rata-rata US$ 8,100 per bulan atau setara dengan Rp 80.190.000. Apakah jumlah produksi yang kecil ini tercatat dalam kas pemasukan Pertamina, kita tidak tahu.

Meski hari ini angkanya sepele untuk sebuah kegiatan pengeboran minyak, tapi sumur inilah sisa terakhir dari awal kejayaan perminyakan di seluruh Indonesia. Masyarakat menamainya Telaga Said atau Telaga Tunggal. Nama Telaga Said muncul dari pengabadian nama seorang mandor (Mandor Said) yang hilang secara misterius di lokasi pengeboran. Kini warga memelihara keramat mendiang Mandor Said di sisi bekas pengeboran minyak pertama itu.

Telaga Said terdiri dari ratusan sumur sisa pengeboran. Tapi kini tinggal satu sumur saja yang masih mengeluarkan minyak. Pipa bornya pun tetap menggunakan sisa peninggalan Belanda. Praktis tidak ada pembaruan di sini. Pihak Pertamina tinggal mengambil isinya dan mengangkut drum-drum itu dua kali sebulan.

Memang ada sih upaya pengeboran baru sekitar 100 meter dari sumur pertama. Tapi kondisinya sangat lucu. Menurut warga, upaya-upaya itu sudah berkali-kali dilakukan, tapi hasilnya sampai sekarang hanya berupa sebuah lapangan yang diratakan, plus tiga sumur dangkal berisi air hujan. Sudah berapa besarkah dana pembuatan sumur-sumur dangkal itu dilaporkan dalam pos pengeluaran Pertamina, kita juga tidak tahu. Tapi mari mencoba melupakan soal-soal yang begituan!

Bila kita punya sedikit otak saja untuk melihat bekas pengeboran itu sebagai sebuah objek wisata yang sangat bersejarah, rasanya Anda akan setuju kalau nasib Telaga Said saat ini sangat menyedihkan. Sumur-sumur penampungan pertama tidak terurus dan hampir tenggelam oleh semak-semak. Bekas rumah-rumah pegawai Belanda yang agak masuk ke dalam, sudah jadi hutan, meski pondasi dan sebagian tiangnya masih dapat ditemukan. Masyarakat malah mempercayai hantu sudah bergentayangan di sana. Sial betul!

Padahal ada era besar yang pernah mempengaruhi sejarah politik dan mengubah peta kekuatan global di balik sisa tetesan minyak Telaga Said. Era itu bermula ketika A. J. Ziljker, pengusaha perkebunan tembakau asal Belanda, berhasil membor sumur produksi pertama di Telaga Said pada 15 Juni 1885. Sumur itu berkedalaman 121 meter dengan penghasilan 180 barrel per hari. Bila hasilnya dikonversikan ke nilai rupiah sekarang, maka penghasilannya adalah 180 barrel x US$ 60 x Rp 9.900 = Rp 106.920.000 per hari atau rata-rata Rp 3.207.600.000 per bulan. Itu baru satu sumur, lho. Bayangkan berapa penghasilan yang diraup perusahaan Belanda dengan ratusan sumur di sekitar Telaga Said.

Tak heran bila pada tahapan selanjutnya, Pangkalan Berandan sebagai pusat pengolahan minyak pertama di Indonesia berkembang menjadi kota yang melahirkan sebuah perusahaan minyak terbesar Asia di bawah bendera Bataafsche Petroleum Maatschapij (BPM) milik Belanda.

Keberhasilan Ziljker di Langkat memicu upaya-upaya eksplorasi dan produksi di daerah-daerah lain. Sebelum Jepang menduduki Indonesia, tak kurang dari raksasa-raksasa SHELL, STANVAC, NV NIAM dan CALTEX sudah bermain di negeri ini dengan sistem konsesi. Pada akhir 1944, Jepang melakukan pendudukan dan berhasil pula menemukan ladang minyak di Minas (Riau) yang kemudian berkembang menjadi ladang minyak terbesar di Asia Tenggara. Kolonial Jepang mengelolanya lewat perusahaan Sayutai.

Pas ladang-ladang itu diambil-alih pemerintah Indonesia (Pertamina), maka sejarah kebangkrutan pun dimulai. Hampir semua perusahaan minyak di dunia mengalami perkembangan dan metamorfosis menjadi perusahaan raksasa, tapi Pertamina tidak. Itulah yang harus kita bayar atas ketidakpedulian negeri ini terhadap semangat sejarahnya sendiri. Malu rasanya.

Bumi Hangus

Ketika era pertumbuhan minyak bumi di Indonesia selesai bersamaan dengan berakhirnya pendudukan Jepang, sejarah perjuangan nasional juga mencatat bagaimana besarnya pengorbanan gerilyawan mempertahankan industri minyak sebagai aset strategis dari Agresi Belanda pertama tahun 1947.

Bagi pihak penjajah, kalau belum menguasai minyak di Pangkalan Berandan, berarti mereka belum sempurna menguasai Sumatra Timur. Tak heran, ketika pasukan Belanda dapat memenangkan pertempuran Medan Area, mereka langsung ofensif ke arah barat yang targetnya sangat jelas: minyak di Pangkalan Berandan dan sekitarnya.

Tapi pasukan Belanda yang ditugaskan khusus menguasai Langkat di bawah pimpinan Letkol. H. Kroes mendapat rintangan keras dari Batalyon Istimewa Divisi X TRI yang dikomandoi Kapten Agus Husin. Pasukan Belanda yang sudah sampai ke Securai, dipukul mundur sampai batas demarkasi Gebang. Untuk memperingati peristiwa tersebut, di Gebang telah didirikan Tugu Demarkasi. Beberapa hari setelah gagal melakukan penguasaan Pangkalan Berandan, pasukan Belanda merencanakan sebuah serangan besar-besaran.

Rencana tersebut bocor ke telinga para pejuang dari mulut seorang pengkhianat bernama Tengku Karma bin Tengku Sulaiman. Mata-mata Belanda yang diangkat sebagai kontelir Belanda di Tanjung Pura ini tertangkap pasukan TRI. Atas informasi itu, para pejuang bersiap siaga. Pertama, mereka menghancurkan jembatan Pelawi di gerbang masuk kota Pangkalan Berandan untuk menghalangi gerak maju tentara Belanda. Upaya ini tidak berarti karena pasukan Belanda yang melakukan pengepungan dari darat, udara dan laut, jauh lebih kuat.

Dua kapal perang (gun boat) milik Belanda memasuki alur Sei Babalan dan mendarat di Sei Bilah (dekat gedung Bioskop Surya). Belasan pesawat tempur mustang juga meraung-raung di atas kota. Situasi menjadi tegang dan para pejuang tidak lagi menguasai keadaan.

Pada momen yang genting itu, Panglima Divisi X TRI, Kolonel Husin Yusuf, memerintahkan Komando Sektor Barat dan Oetara (KSBO) Medan Area, Letkol Hasballah Hadji, untuk membumihanguskan instalasi industri perminyakan berikut objek-objek vital lainnya di Pangkalan Berandan dan Pangkalan Susu.

Surat perintah lanjutan dipersiapkan perwira operasi KSBO, Kapten Sudirman, dan ditandatangani Komandan KSBO, Hasballah, pada 12 Agustus 1947. Surat perintah itu diteruskan ke para komandan pioner pembumihangusan. Mereka masing-masing Lettu Usman Amir, Tengku Nurdin, Umar Husin, dan M. Yusuf Sukony. Salinannya juga ditembuskan kepada Pemimpin Plaatselijk Militair Commando, Mayor Nazaruddin, yang bertanggung jawab penuh atas keamanan umum dan keselamatan penduduk kota.

Tepat pukul 03.00 dini hari tanggal 13 Agustus 1947, seluruh instalasi dan fasilitas perminyakan di Pangkalan Berandan berubah jadi merah. Satu jam kemudian, giliran kota Pangkalan Berandan jadi lautan api. Situasi memanas, kota membara, dan perekonomian lumpuh total. Setiap tahun, peristiwa ini selalu diperingati warga kota Pangkalan Berandan yang perayaannya lebih meriah dari HUT RI 17 Agustus 1945.

Sepanjang sejarah pengalihan-pengalihan kekuasaan di Tanah Air, kota Pangkalan Berandan sebenarnya sudah 3 kali dibumihanguskan. Pertama dilakukan tentara Belanda pada 9 Maret 1942 ketika Jepang menyerbu masuk. Saat itu kerusakan tidak terlalu parah karena dilakukan secara tergesa-gesa. Yang kedua pada 13 Agustus 1947 sebagai bumi hangus terparah dan selanjutnya ditetapkan sebagai Hari Peringatan Bumi Hangus Pangkalan Berandan. Sedangkan yang terakhir dilakukan pada 19 Desember 1948 bersamaan dengan Agresi Belanda kedua.

Indonesia mewarisi industri perminyakan nasional dari puing-puing bumi hangus itu. Adalah nama Kolonel Ibnu Sutowo yang kemudian mencuat sebagai figur yang mengangkat kembali kejayaan industri perminyakan nasional. Untuk pertama sekali, tanggal 24 Mei 1958, ia berhasil memberangkatkan 1.700 ton minyak mentah ke luar negeri senilai sekitar US$ 30.000 dengan kapal tanker Shozui Maru. Kapal itu berangkat dari Pelabuhan Minyak Pangkalan Susu. Inilah sejarah ekspor minyak mentah pertama Indonesia.

Melihat usaha Ibnu Sutowo dan kawan-kawan, Kobayashi Group dari Jepang tertarik memberikan bantuan kredit US$ 53 juta dan teknik ke Pertamina (waktu itu namanya masih Permina). Kredit itu diberikan dalam bentuk perlengkapan industri dan suku cadang yang harus dikembalikan dalam bentuk minyak mentah selama 10 tahun operasi (1960-1970).

Indonesia sempat menikmati puncak kejayaan industri perminyakan karena diuntungkan dengan harga minyak internasional yang booming antara tahun 70-an hingga 80-an. Keuntungannya menjadi primadona sumber devisa Indonesia selama puluhan tahun. Tapi setelah itu, Pertamina yang resmi berdiri 10 Desember 1957 di Pangkalan Berandan ini gagal menghadapi berbagai masalah, mulai dari intervensi politik, korupsi, hingga kebobrokan manajemen. Sekarang Pertamina sudah jatuh miskin! Kalau dulu Pertamina menyokong APBN, sekarang malah membebani APBN.

Jejak-jejak yang Tertinggal

Kota Pangkalan Berandan dan sekitarnya adalah sejarah yang mengubah dan melahirkan banyak hal. Di sini, jejak-jejak masa lalu bertebaran di mana-mana. Sebagian besar tak terurus. Sudah saatnya kita membingkainya kembali dalam satu album yang utuh, agar spiritnya tidak usang hingga ke masa mendatang.

Dari perspektif pariwisata sendiri, banyak peninggalan-peninggalan berharga yang layak dirawat dan dipertahankan. Hingga saat ini, kilang pengolahan minyak pertama masih berdiri di tengah-tengah Komplek Pertamina Pangkalan Berandan. Kilang pengolahan itu asli dari zaman Belanda dan sudah tiga kali menjadi sasaran pembumihangusan. Jejak-jejak yang sama dari ratusan tahun silam juga bertebaran di kawasan Telaga Said. Semua itu adalah peringatan dari sebuah alur cerita yang nyata. Bila dibiarkan dimakan rawa, kita telah membuang satu bagian penting dari sejarah nasional.

Yang tak kalah menarik, kota Pangkalan Berandan masih menyisakan satu komplek tua yang khas. Komplek yang memanjang di Jalan Sorong itu terdiri dari puluhan rumah panjang khas zaman Belanda dengan arsitektur Belanda. Dulu, perumahan ini dipakai para petinggi perusahaan minyak Belanda, dan sampai kini masih dipakai karyawan-karyawan Pertamina.

Bentuknya menarik sekali dan betul-betul menceritakan salah satu sudut kota Berandan di masa lalu. Pekarangannya luas dan lega, jendela-jendelanya lebar, dan ruangan bawahnya dibiarkan terbuka. Di sini, dulunya nona dan tuan Belanda beristirahat menikmati angin dan mengurus bunga-bunga di pekarangan. Menurut Asisten Media Hupmas UP I Pertamina Pangkalan Berandan, Firmansyah, turis-turis Belanda masih sering datang mengunjungi komplek tersebut untuk bernostalgia. Apakah kita akan terus buta?

sumber : insidesumatera.com

PERAWANG (RP) – Padatnya arus lalu-lintas di jalan raya Perawang membuat perlu adanya jalan alternatif untuk masyarakat dari Perawang ke Pekanbaru dan sebaliknya.
Menurut Camat Tualang Romy Lesmana AP, jalan alternatif memang sudah harus ada. Namun perlu perbaikan. Maka untuk keamanan dan kenyamanan bagi kendaraan kecil seperti pengendara sepeda motor harus ada jalan alternatif.
‘’Melihat kini padatnya arus lalu-lintas jalan raya Perawang-Minas harus ada jalan alternatif. Dalam hal ini pemerintah memiliki wancana akan membuat jalan alternatif dari Okura menuju Pekanbaru,’’ jelas camat Tualang, kemarin.
Dengan adanya jalan alternatif, lanjut Romy, tentunya selain pengendara lebih terasa nyaman dan aman juga akan mempersingkat waktu ke Pekanbaru. Dalam hal ini, pemerintah telah memiliki wancana membuat jalan alternatif.
Terkait dengan kerusakan jalan di Dusun Pertiwi atau jalan menuju Polindo, hendaknya pihak Pelindo, membangun jalan semen rigid. Hal ini bertujuan agar jalan tersebut bisa bertahan lama mengingat kendaraan besar setiap saat melalui jalan tersebut.(wik)

sumber :http://www.riaupos.com

walau dah lewat masih menarik untuk di simak…………..
Jika ditahun 1956 Kongres Rakyat Riau (KRR) I melahirkan opsi perjuangan untuk berpisah dari Propinsi Sumatra Tengah, yang akhirnya melahirkan Propinsi Riau. Tiga puluh empat tahun kemudian di penghujung bulan Januari tepatnya tanggal 1 Februari 2000, dalam perhelatan sama yang bernama Kongres Rakyat Riau II, lahirlah opsi merdeka dari tiga pilihan yang ada yaitu merdeka, otonomi khusus ataupun negara federasi. Dari 623 peserta yang hadir; 270 orang memilih opsi merdeka, 199 orang memilih otonomi khusus dan 146 suara memilih Negara federal. Baca Lebih Lanjut »
walau copas tapi menarik  untuk di  simak………
oleh : Azizon nurza
Saya tergelitik untuk ambil bagian dalam diskusi terkait dengan perjuangan Otonomi Khusus (OTSUS) khususnya pencoretan anggaran perjuangan Otsus oleh Menteri Dalam Negeri yang didedahkan oleh bang drh. H. Chaidir, MM Ketua DPRD Riau dikolom Opini Riau Pos 19 Maret 2007.

Mengapa dana perjuangan Otsus harus diambil dari APBD? Sebuah pertanyaan yang menggelitik hati saya pada saat mendengar perdebatan panjang terhadap masalah ini. Sepertinya perjuangan ini kurang bermakna, terasa tidak totalitas, tidak segenap jiwa, tidak menggelora, tidak heroik dan memancing timbulnya keraguan dan pertanyaan. Baca Lebih Lanjut »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.